Assalamu’alaikum wrwb - Hamdalah - sholawat pertama tama mari kita panjatkan Segala puji hanya kepada Alloh Rob semesta alam, yang telah memberikan kita nikmat panjang umur dan kesehatan sehingga kita masih bisa melaksanakan ibadah tarawih malam yang ke 23 ini. Solawat dan salam ke atas nabi Muhammmad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya Hadirin sidang tarawih, para ulama/ustad, bapak/ibu, /adik2 anak2 pelajar yang disayangi Alloh, materi kultum malam ini berjudul “JANGAN IKUT IKUTAN TANPA ILMU” judul ini berdasarkan dalil, firman Allah SWT dalam surah Al Isra ayat 36” (taawudz, bismillah, baca ayat) yang artinya: dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yg tidak kamu ketahui ilmunya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya hadirin, manusia itu memang sudah mempunyai sifat suka meniru, oleh sebab itu Allah menurunkan Rosul SAW sebagai uswatun hasanah (suri tauladan) untuk kita tiru dan kita contoh. Tetapi, dengan membaca ayat tersebut di atas, kita diperintahkan Alloh agar jangan ikut ikutan/meniru pada sesuatu yang belum jelas kita ketahui kebenaran atau kita ketahui ilmunya. Jangan sampai, perbuatan kita sia sia karena ditolak Alloh SWT, karena kita kerjakan tanpa tahu ilmunya yang benar. Apakah sudah Sesuai menurut AlQuran dan Apakah sudah Sesuai seperti yang dicontohkan rosul SAW Ada banyak contoh sifat ikut ikutan, tanpa ilmu antara lain: 1.masyarakat umum, melihat maling digebukin, orang yang gak tau masalah langsung ikut gebukin, padahal siapa tahu maling itu tidak bersalah/ salah tangkap. 2.pada pelajar: melihat temannya ikut tawuran, semua ikutikutan tawuran, main keroyokan. 3.remaja putri: melihat temannya pakai jilbab diikat ketat, ikut ikutan diikat ketat, tanpa mau bertanya pada ustad bagaimana hukumnya. 4. ibu ibu pengajian di masjid lain: pernah saya lihat, satu orang pulang selesai dari mengaji di majelis taklim dari mesjid, pas pada saat muadzin mengumandangkan azan ashar, lalu ibu2 lainnya ikut2an pulang. Orang2 berdatangan ke masjid saat azan, eh ibu ibu malah pada pulang dari masjid. Padahal sholat lebih wajib daripd mendengar ceramah. (begitulah kalau ikut2an tanpa ilmu), solusi: kalau mau sholat di rumah, ya ditunggu sampai adzan/sholatnya selesai. 5. bahkan sebagian para ustad, terutama yang sering tampil di tv sudah kena sifat ikut ikutan tanpa ilmu: yaitu ceramah dengan humor berlebihan dan bercanda berlebihan. Mohon maaf buat yang senang atau ngefans dengan ustad yang lucu, dan/atau yg ganteng di tv. Sehingga bisa diambil kesimpulan Kalau kita nonton sebagian besar ceramah di tv sampai terpikir “ini acara ceramah atau acara lawak? “ini tuntunan atau tontonan” kalau kita mau ketawa2, ngapain dengar ceramah, sekalian saja nonton lawak jojon/komeng atau bolot cara dakwah ceramah dengan dipenuhi canda /lawak/humor berlebihan itu tidak pernah dicontohkan Rosul SAW. dai dai yg ngetop terkesan membisniskan ceramah, isi ceramah terkesan untuk hiburan/enetrtainmen, penuh dengan kesenangan dan canda berlebihan yg dibuat2. Sehingga kehilangan ruh / semangat menuntut ilmu. Sehingga ceramah yg didengarkan tidak membawa dampak perubahan sikap kita menjadi lebih baik. Sedangkan Rosul SAW mencontohkan, kalau berceramah itu serius dan berwibawa Hadirin yang dirahmati Alloh agar semua ceramah yg kita dengarkan membawa manfaat perubahan sikap dan nasib kita, Maka dari itu mulai saat ini, bahkan diteruskan setelah romadhon marilah kita ramaikan semua majelis ilmu/ majelis taklim seusai ajakan dakwah menuju hidup sukses dalam surah Al Anfal ayat 24 (taawudz & Baca) artinya: ”wahai orang2 yg beriman sambutlah ajakan Alloh dan Rosulnya, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberimu hidup (sebaik2nya).” hadirin, sidang tarawih rohimakumullah, agar kita semangat menyambut ajakan Alloh dan rosulnya dalam mencari ilmu, kita harus mengetahui ilmunya dari ahlinya: menurut pakar/para ahli pendidikan/ahli jiwa/psikologi orang2 sukses, ulama, sarjana dan, orang2 kaya saat ini yang bekerja keras, kebanyakan hanya menggunakan tidak sampai 40 persen saja dari kemampuan ilmu dan akalnya. Yang kebanyakan orang awam hanya menggunakan kurang dari 5 persen dari kemampuan ilmu dan akal, dan merasa sudah belajar/usaha maksimal. Bila ada orang yang mampu menggunakan akal dalam menuntut ilmu sampai 50 persen saja dari kemampuan akal/otaknya maka orang itu bisa dilukiskan dengan gambaran: mampu menghapal Al Quran 30 juz, lalu mampu bicara 40 bahasa asing, kemudian mampu meraih 12 gelar sarjana sekaligus, jadi orang tersebut: bisa jadi insinyur sekaligus dokter, dokter gigi, sarjana matematika, fisika,sarjana hukum, dan seterusnya sekaligus. Dalam seumur hidupnya. bukti sejarahnya sudah ada: orang2 sukses yang bukan nabi dan Rosul tetapi mampu menggunakan ilmu/akalnya sampai lebih dari 5 persen: 1. Abu hurairoh: hapal hadits sampai titik koma nya. Masuk islam umur 60 tahun tetapi hapal hadi sampai lebih dari 5374 hadits 2. Anas bin Malik Al Anshori , mnenyertai nabi sejak umur 10th haditsnya sampai 2286 hadits 3. Ibnu Sina: bapak kedokteran dunia: sejak secil hapalAlQuran 30juz, sekaliggus, ahli kedokteran merangkap ahli ilmu alam, skaligus ahli astronomi, 4. Di indonesia ada buya Hamka: karya tulisnya lebih dari 60 buku, mahir bicara beberapa bahasa asing dengan hanya belajar sendiri /otodidak, 5. Saya punya teman2 yang mampu mengajar lebih dari 10 macam software komputer Dll. Bagaimana Caranya memaksimalkan ilmu kita, paling tidak mendekati 5 persen dari kemampuan kita: 1. Kurangi nonton sinetron 2. Kurangi main dan ngobrol tanpa tujuan Ganti dengan kegiatan membaca, dengan banyak membaca kita akan cerdas dan akan menemui saudara kembar membaca yaitu menulis Dengan menulis kita bisa berbagi ilmu dengan orang di seluruh dunia, Dan kita bisa meninggalkan jejak ilmu untuk anak dan cucu. NAMUN DEMIKIAN Belajr jangan Cuma dengan cara membaca buku saja , tetapi harus didampingi guru/ustad/murobbi/kyai untuk membahas buku tersebut Karena, kalau belajar hanya dari buku saja, kita bisa stres dan sesat. Karena apa yang kits baca belum tentu sesuai dengan maksud si penulis buku. Oleh sebab itu Alloh memerintahkan kita wajib menuntut ilmu, yang malas ke majlis taklim itu dosa, yang malas sekolah itu dosa, yang malas belajar, yang malas kursus/les itu juga dosa. Karena menuntut ilmu itu wajib dari lahir sampai kita mati. Bahkan Yang sekarang sudah jadi sarjana juga wajib terus belajar/ les/ kursus/ baca buku/ke m.taklim dst.. Menurut Dr rhenald kasali guru besar dosen fak ekonomi UI, bila ada sarjana ekonomi, lalu 6 bulan berhenti membaca buku ekonomi, maka bisa disebut mantan sarjana ekonomi, bila dokter 2 tahun berhenti praktek dan stop membaca buku kedokteran maka disebut mantan dokter. Hadirin, rohimakumullah, mari kita semangat belajar terus, umur kita makin pendek, bahkan sisa umur planet bumi kita pun, makin pendek ditandai dengan: tanda kiamat sudah dekat, seperti: sekarang sudah sering gempa, banyak pasar/mall berdekatan, banyak pezina, pembunuhan dll Maka dari itu, marilah kita kembali ramaikan majelis ilmu/taklim agar kita terhindar dari sifat ikuti kutan tanpa ilmu, Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat.sesuai Firman Alloh surah Al Isra ayat 36 Sekian dahulu, semoga bermanfaat dalam membangkitkan semnagat menuntut ilmu, dan yang benar datangnya hanya dari Alloh SWT. saya mhn Maaf bila ada kata yang kurang berkenan Billahi taufik walhidayah, wasswwb